Kelemahan Jadi Kelebihan

Ketika SD (karena tidak TK dulu), saya paling tidak suka pelajaran menggambar, karena saya tidak bisa menggambar. Jadi, kalau ada PR menggambar, paling hanya bisa menggambar rumah, atau pegunungan.

Ketika masuk di LPK (Lembaga Pendidikan Komputer) 1 tahun, dapat materi desain grafis menggunakan Photoshop dan CorelDraw, itupun saya hanya faham dasar-dasarnya dan hanya mengerjakan sesuai yang ada di modul. Saya merasa tidak memiliki bakat seni.

Lanjut kuliah S1 ambil jurusan Teknik Informatika yang fokus belajar pemrograman. Semakin jarang lagi otak atik aplikasi desain grafis.

Ketika keterima jadi ASN di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan ternyata ditempatkan di laboratorium broadcasting bernama PPTD, di sana ada 3 studio, yaitu studio radio, studio TV dan studio fotografi dan desain grafis. Saya akhirnya harus belajar banyak hal baru di sana. Dan saya masih merasa tidak punya bakat seni, khususnya dalam bidang desain grafis.

Namun, Agustus 2018 saya memberanikan diri untuk membuka kelas Canva gratis di WA grup, sebagai salah satu bentuk syukur saya karena sudah 10 tahun mengabdi sebagai ASN. Masya Allah, ternyata antusias dari peserta luar biasa, sampai saya harus buka 4 grup WA dengan total peserta sekitar 500-an, dan ini semua perempuan, karena memang saya buka hanya untuk perempuan.

Saya yang sebenarnya saat itu juga belum jago membuat desain di Canva, berbagi yang saya bisa dan saya tahu tentang Canva. Selain itu, saya juga sedikit berbagi ilmu dasar desain yang dulu pernah saya dapatkan saat di LPK.

November 2018, untuk pertama kalinya, saya diminta pimpinan membuat desain spanduk untuk acara Pemeriksaan Gratis kerjasama Fakultas dengan Kimia Farma. Saya pun menyanggupi. Saya buat desain spanduk tersebut di Canva versi desktop, lalu saya mencetaknya di percetakan Mangrove Grafindo. Alhamdulillah berhasil dan sesuai yang diinginkan pimpinan.

Desain spanduk pertama yang saya buat di Canva (yang dipasang di atas pada tembok)

Itulah pertama kalinya saya membuat desain spanduk di Canva dan mencetaknya. Sejak itu, saya jadi tahu, ternyata Canva bisa untuk membuat desain dari nol seperti Photoshop maupun Corel draw. Lalu saya pun memasukkan materi desain spanduk/banner/backdrop dengan ukuran sesuai kebutuhan ini di kelas Canva ABCD.

Saya pun semakin rajin membuat desain di Canva, bahkan yang paling sering, saya membuat desain flyer kelas-kelas Indscript atau produk Indscript, baik diminta atau tidak. Saya pun semakin percaya diri dengan karya desain saya.

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa membongkar mental block yang bertahun-tahun ada di pikiran saya, bahwa saya tidak punya bakat seni, dan itu menjadi kelemahan saya, tapi kini bidang desain grafis menjadi kelebihan saya, khususnya karya desain grafis yang dibuat menggunakan aplikasi Canva. Masya Allah.

Jangan pernah merasa tidak punya kelebihan, karena mungkin kita yang belum menggalinya dengan sungguh-sungguh. Yakinlah Allah SWT memberikan potensi unggul masing-masing untuk setiap hambaNya. Teruslah digali sampai menemukannya. Lalu jadikan itu Monetize Intelligence (meminjam istilah Ki Jenderal Nasution dalam bukunya The Scienceof Wealth), maksudnya seperti hobi yang dibayar atau kemampuan kita yang bisa dibayar ๐Ÿ™‚

Merajut Mimpi Bersama CANVA

Pada bulan Januari 2020, saat saya pertama kali membuka kelas Canva ABCD (Asyiknya Belajar Canva Design) di IndScript Businesswomen University (IBU), saya hanya ingin dari kelas saya lahir para desainer grafis perempuan sesuai pesan dari Teh Indari Mastuti sebagai founder IBU.

Salah satu kegiatan saya bersama Teh Indari Mastuti

Alhamdulillah, satu persatu alumni kelas Canva ABCD mengabari saya bahwa mereka mendapatkan job desain. Betapa bahagianya saya. Dan pada milad pertama ABCD pada Januari 2021, saya berani bermimpi melahirkan 1000 desainer dari kelas Canva ABCD ini. Dan saya mulai mendokumentasikan data para desainer ini pada sebuah landing page agar mudah di-update kapan saja.

Selain mendapatkan laporan bahwa alumni kelas Canva ABCD mendapatkan job desain, ternyata ada juga yang memberi kabar diminta menjadi mentor Canva atau mereka membuka kelas Canva sendiri. Ini di luar mimpi saya. Tapi ternyata alumni ABCD bisa juga menjadi mentor. Ini kebahagiaan lagi buat saya, melihat mereka terus berkarya. Saya mengumpulkan testimoni alumni kelas Canva ABCD dalam sebuah channel Telegram.

Saya pun mencoba mendaftar sebagai Canva Affiliate pada April 2021. Namun saat itu saya hanya sekedar daftar lalu ditinggal begitu saja. Pada bulan Oktober 2021 saat ada pengumuman lagi di FB Grup Canva Design Circle tentang Canva Affiliate, saya baru tersadar bahwa saya dulu pernah daftar, lalu buka-buka lagi email dan ternyata banyak info yang saya lewatkan dari Canva. Saya pun mulai aktif mempromosikan link Canva Affiliate saya dan mulai mempelajari lebih detail cara kerjanya. Karena saya ingin perempuan lain pun bisa menjadi Canva Affiliate, maka saya berikan cara-caranya sebagai materi bonus di kelas ABCD Special Canva Contributor. Alhamdulillah banyak yang mendaftar sebagai Canva Affiliate.

Selain Canva Affiliate, saya pun mendaftar sebagai Canva Contributor. Dan alhamdulillah elemen yang saya kirim sudah disetujui Canva. Saya pun ingin perempuan lain menjadi Canva Contributor, maka saya buka kelas ABCD Special Canva Contributor. Dan ternyata banyak peminatnya, sampai 130 lebih pesertanya. Mereka pun sudah mulai pada daftar dan sudah pada disetujui Canva elemennya. Saya membuat landing page khusus untuk daftar alumni ABCD yang menjadi Canva Contributor.

Dan beberapa hari yang lalu saya juga daftar sebagai Canva Creator. Saat ini masih dalam proses review oleh Canva terhadap portofolio yang saya kirimkan. Semoga segera mendapatkan kabar dari Canva.

Maka kemarin saya menyatakan bahwa kini impian saya tidak hanya melahirkan desainer dan mentor Canva, tapi dari kelas Canva ABCD akan lahir juga Canva Affiliate, Canva Contributor dan Canva Creator. Insya Allah. Bismillah.

Pantun Canva

Berawal dari asisten saya, Teh Noni yang jago sekali bikin pantun, saya menyarankan agar pantunnya dikemas dalam sebuah desain di Canva agar lebih menarik.

Teh Noni pun mengikuti arahan saya. Dia mulai membuat desain yang isinya adalah pantun.

Saya pun akhirnya punya ide membuat lomba pantun Canva pada bulan November 2020. Banyak sekali yang mengikuti lomba pantun Canva tersebut. Dan berikut ini pemenangnya.

Setelah itu, saya pun memasukkan jadwal pantun Canva pada kegiatan di grup Telegram Asyiknya Belajar Canva (grup khusus perempuan) pada setiap hari Senin.

Contohnya pada hari Senin, 29 November 2021 hari ini.

Inilah karya pantun Canva saya.

Yang menarik adalah karya pantun Canva dari salah satu anggota grup yaitu Mba Erina yang menggunakan bahasa Inggris berikut ini.

Tujuan saya mengadakan pantun Canva adalah ingin memadukan kemampuan berbahasa, menulis dan membuat desain, karena ternyata jika dicoba, membuat pantun itu tidak sesulit yang dibayangkan. Seperti saya yang dulu punya “mental block” bahwa saya tidak bisa membuat pantun, ternyata saat berusaha dicoba, bisa juga.

Mari lestarikan budaya bangsa dengan berpantun di Canva!

Cara Langganan Canva Pro

Kemarin saya mencoba langganan Canva Pro yang untuk tim berlima, alhamdulilah bisa seting metode pembayarannya pakai Kartu Debit Jenius. Selain pakai kartu Jenius, bisa juga menggunakan kartu Bank Jago dan kartu ATM BCA.

Aaaah andai tahu dari dulu. Eh, tapi kan tidak ada kata terlambat untuk mencoba sesuatu yang baru ๐Ÿ˜

Sekarang semua tim desain saya, saya add ke tim saya Canva Pro nya, mereka tidak perlu langganan Canva sendiri.

Nah, kalau Emak misalnya punya perusahaan atau lembaga yang ada tim desainnya lebih dari 1, maka akan lebih murah kalau langganannya langsung berlima seperti ini. Yang bayar langganan Canva Pro nya, ya perusahaan. Jika tim desainnya ada 10, ya pilih yang paket langganan untuk 10 orang.

Selamat mencoba, ada versi trial nya lho selama 30 hari, klik di sini!๐Ÿ˜